Oleh: Yudhistira Agato

 

 

Wawancara dengan Kelana Wisnu perwakilan Jungkir Balik dengan Vice.com 

Inilah kisah kolektif penerbitan asal Bandung bertekad mengarungi terjalnya jalan idealisme, dengan menerbitkan buku tentang musisi Inggris yang kurang populer di Tanah Air.

Sekilas, rasanya sulit menarik hubungan antara Nick Drake dengan Indonesia. Drake merupakan musisi folk akustik asal Inggris yang sempat aktif akhir dekade 60-an sampai awal 70-an. Sepanjang karirnya, dia merilis tiga album studio namun tidak pernah benar-benar sukses secara komersial. Drake tak pernah cukup populer di negara asalnya, ataupun di benua Eropa sana, sebelum akhirnya meninggal pada 1974. Justru jauh sesudah kematiannya, Drake mulai mendapatkan perhatian para kritikus musik dan sempat disebut sebagai inspirasi oleh Robert Smith, vokalis The Cure. Sampul album kedua Drake yang ikonik, Bryter Layter juga sengaja ditiru oleh band metal Jepang, Boris sebagai bentuk penghormatan. Tetap saja, harus diakui Nick Drake belum pernah populer di tanah air. Saya tidak ingat pernah melihat albumnya di toko musik lokal manapun. Berbeda dari nama yang lebih tenar seperti Bob Dylan atau Leonard Cohen

“[Album] Nick Drake belum pernah dirilis di Indonesia,” kata Dimas Ario, pengiat kancah musik lokal dan kurator musik independen Indonesia. “Gue juga dulu beli CD-nya dia pas gue di luar [negeri].” Sebagai penggemar Nick Drake, Dimas girang bukan kepalang, ketika pertama kali mendengar kabar bahwa buku diskografi sang musisi folk misterius itu, yang ditulis oleh Patrick Humphries, dirilis dalam bahasa Indonesia. Tetap saja, walau girang, Dimas agak terkejut. “Kok berani ya? Kenapa gak nerbitin Bob Dylan atau David Bowie dan nama-nama besar lainnya?” imbuh Dimas.

Pihak yang bertanggung jawab atas kenekatan ini adalah Yayasan Jungkir Balik Pustaka Indonesia, sebuah kolektif berisikan sesama rekan Universitas Padjadjaran Bandung (kebanyakan jurusan sastra Indonesia). “Kami tidak ditunggangi oleh siapapun atau institusi apapun,” kata Kelana Wisnu, salah satu pendiri yayasan tersebut, yang juga bertanggung jawab atas kehadiran toko buku Ruang Raung di Jatinangor. “Kami tidak berpikir jauh untuk bikin profit, hanya cukup untuk nutup produksi aja,” kata Kelana. “Ya inilah risiko dari penerbit alternatif yang sok-sokan memilih topik marjinal,” tambahnya sambil tertawa.

Saya menghubungi Kelana yang saat itu sedang berada di Yogyakarta untuk mengurusi percetakan buku Nick Drake. Via Skype, kami ngobrol tentang ambisinya sebagai penerbit independen, gairah membaca anak muda saat ini, dan tentunya misteri tentang sosok Nick Drake.

VICE Indonesia: Gimana awalnya bisa kenal Nick Drake?
Kelana Wisnu: SMA kelas 3 awal saya mendengarkan “Place To Be” dari album Pink Moon. Ya memang waktu itu masa-masa pencarian identitas ya. Kalau orang zaman dulu mungkin umur 25 baru quarter life crisis. Anak-anak sekarang yang kesadarannya lebih cepat itu bisa lebih awal. Jadi saya waktu itu sudah mulai gelisah soal kehidupan. Mendengarkan “Place To Be” itu langsung merasuk rasanya. Saya user last.fm waktu itu [tertawa] terus ketemu Nick Drake dan saya pikir wah gila ini. Dari rima dia menulis lirik, dari petikan gitar yang lincah, ini musisi bajingan ini. Dia jenius folk tapi kok gak seterkenal Bob Dylan ataupun Tom Waits dan segala macam. Saya jadi penasaran.

Terus kenapa dia gak terlalu terkenal, bahkan di kancah musik Barat sana? Dijelasin gak di buku ini?
Banyak orang-orang yang meninggal secara misterius seperti Nick Drake akhirnya dibesarkan oleh mitos ciptaan banyak pihak dari berbagai kepentingan agar karyanya laku lagi dan terkenal. Patrick Humphreys dalam buku ini mencoba membeberkan bahwa Nick Drake itu tidak seperti sosok yang dimitoskan orang-orang, bagaimana dia bunuh diri dan mengidap depresi kronis. Banyak tokoh dimitoskan karena pengaruh sosial ekonomi politik. Buku ini menjabarkan dengan jelas kenapa Nick Drake menjadi figur seperti itu.

Apa pertimbangan kalian merilis buku tentang biografi musisi?
Penting membahas persinggungan budaya musik dengan sastra. Salah satu alasan kami merilis Nick Drake adalah kedekatannya dengan dunia sastra. Ketika meninggal , ditemukan buku Mite Sisifus-nya Albert Camus di kamar Nick Drake. Orang ini dekat dengan buku. Kalau melihat lirik yang dia tulis, dengan rima seketat itu, dengan silabel yang dia ciptakan, tidak akan bisa diciptakan oleh orang-orang yang tidak membaca buku atau dekat dengan puisi. Kita ingin memberi jembatan terhadap itu. Bahwa ada kedekatan antara musik dan sastra. Sebetulnya kebudayaan itu lingkarannya satu. Tapi usaha untuk mempopuliskan wacana ini belum ada dan harus dikerjakan rame-rame dan tidak jadi lingkaran elitis aja.

IKLAN

Oke, tapi kenapa Nick Drake? Dia kan gak terlalu populer di Indonesia.
Secara personal, Nick Drake dekat dengan saya karena dia menyelamatkan hidup saya dari depresi dan saya berasa memiliki hutang untuk itu. Tapi di sisi non personal, memang wacana Nick Drake itu harus dikenalkan. Biarpun musik folk sedang seksi-seksinya, nampaknya tradisi musik kita sendiri tidak memiliki tradisi yang panjang terhadap pembacaan musik. Bagaimana fenomena musik itu terpengaruh oleh sosial ekonomi politik. Nick Drake ini bakat yang sangat besar.

Patrick Humphries bahkan mengatakan dia seperti kapal Titanic, mahakarya yang sangat besar, namun karam sebelum mencapai tujuan. Karena ada pengaruh faktor-faktor sosial ekonomi politik itulah akhirnya Nick Drake tidak sampai terkenal gitu ya. Kami sebagai redaksi memilih Nick Drake karena kami ingin ikut menyumbang sebuah wacana baru untuk kebudayaan kita.

Jelasin sedikit dong tentang kolektif kalian Yayasan Jungkir Balik Pustaka
Jungkir Balik berdiri pada tanggal 22 Mei 2017. Ada delapan orang anggota di yayasan ini, ada yang tetap dan terstruktur, dan ada yang jadi relawan. Saya adalah pendiri perpustakaan kolektif Pijar di Blitar. Guna memperbaharui katalog, kami harus menggalang dana dan mendirikan toko buku Ruang Raung di Jatinangor. Latar belakang kami sebagai mahasiswa sastra Indonesia memberi banyak pelajaran bahwa sebenarnya penerbitan itu adalah kontrol wacana masyarakat. Kami tidak lagi sekedar mendistribuskan buku lewat toko dan perpustakaan tapi juga ingin memproduksi wacana yang kami tentukan sendiri tanpa kontrol orang lain.

Apa yang membedakan kalian dengan penerbit-penerbit independen lainnya?
Kami ingin menjembatani wacana-wacana penting di masa lalu. Itu sebetulnya yang menjadi keresahan—sulit sekali mendapatkan itu selain di perpustakaan yang koleksinya lengkap. Sebenernya udah banyak karya sastra Indonesia yang dicetak ulang namun kebanyakan penerbit hanya berani mencetak ulang nama-nama besar—para penulis yang terkanonisasi oleh politik kebudayaan—belum ada yang berani merilis nama-nama yang mungkin asing di telinga banyak orang seperti Nasyah Jamin yang rencananya akan kami terbitkan ulang nashkahnya. Atau Motinggo Busye yang walaupun populer di zamannya, mungkin sekarang tidak ada orang yang tertarik lagi.

Kalian takut merugi gak sih?
Kami cuma mengejar penjualan untuk menutup produksi aja—kami memang mengambil risiko. Kalo nanti tidak laku ya berarti itu memang salah kami, bahwa kami membeli naskah yang memang sulit dijual di pasar. Kami tidak berpikir jauh untuk bikin profit. Intinya cukup untuk nutup produksi dan menerbitkan rilisan baru bulan depan. Ya inilah risiko dari penerbit alternatif yang sok-sokan memilih topik marjinal [tertawa].

Ribet gak sih ngurus izin lisensi buku international seperti diskografi Nick Drake?
Susahnya adalah kami harus membayar ke pihak penerbitnya di Inggris dan itu cukup besar biayanya untuk penerbit kecil seperti kami. Ngos-ngosan. Tapi kami tidak mau nantinya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kami sebetulnya hanya ingin naskah ini tersebar, tapi ya karena ada copyright kami harus berkompromi. Prosesnya sih gak ribet. Kami tinggal email, mereka balas, tawar-menawar, sepakat, tanda tangan, beres.

Siapa saja yang terlibat dengan proyek buku Nick Drake ini?
Sebagai penerbit alternatif, kami merasa perlu merangkul banyak kawan. Sumber dananya pun dari kawan-kawan Ruang Raung. Untuk illustrasi buku kami menggandeng Kalatika Projek dari Jogja. Artwork buku dikerjakan oleh seniman Jogja Nurdiansah. Yang menerjemahkan pun sosok muda: Muhammad Al Mukhlishiddin. Kami memang ingin bekerja sama dengan kolektif-kolektif yang digerakkan oleh semangat anak muda.

Bisa dijelaskan lagi, apa arti dari semangat anak muda versi kalian?
Saya tidak berangkat dari orang umumnya ya. Saya adalah wakil dari generasi yang sering dikhawatirkan akan menjadi generasi yang ahistoris, generasi tuna wacana, yang jelek-jelek gitulah. Padahal kedukaan struktural itu dilimpahkan ke generasi penerus. Saya berusaha menjaga kesadaran bersama teman-teman. Kami bukan datang dari kelas priyayi baru yang sering dicap kepada kami, kelas menengah ngehek atau apapun. Kami menerbitkan Nick Drake karena punya gairah sama musiknya, gitu aja sih. Tidak ada alasan-alasan yang adiluhung gitu ya. Kami hanya bergairah untuk mencoba.